Teman Lama
Hai, apa
kabar teman ? Masih ingat dengan sosok orang yang mungkin masih kamu benci
karena masa lalu ?
Aku masih
ingat canda saat pertama kali kita bertemu. Seorang teman baru yang lugu, lucu
dan cantik. Sebut saja Putri. Karena dia memang cantik. Aku tulus loh bilang
dia cantik, karena dia memang cantik. hihi.. Kadang aku menyalahkan diri sendiri yang
tidak bisa mengubah alur cerita pertemanan itu menjadi sebuah kisah yang
menyenangkan. Aku menyesali karena perasaan kalut pada seorang pria yang sama.
Hingga sampai kita berada pada perasaan saling membenci.
Kenapa
aku menulis ini ? Karena hanya dengan beribu kata maaf dia tidak akan bisa baik
lagi. Aku begitu dibencinya, jadi aku juga ingin dia tau perasaan, isi hati,
dan yang aku alami tentang dia. Wahai putri, aku harap kamu membaca ini tidak ditemani
rasa benci itu.
Kelas
satu SMA itu adalah masa pengenalan dengan teman dan lingkungan yang
baru.Termasuk berkenalan dengan sang putri. Beberapa bulan kita berada dalam
satu lingkup yang sama, tidak ada masalah. Dia orang nya asyik, menyenangkan,
tapi sedikit misterius juga sih. Aku juga nyaman bisa berteman dengan sang
putri. Tak lupa dia juga baik hati, smart, dan peduli ke semua teman temannya,
tidak memandang status sosial temannya juga. Aku bukannya mau ngejudge orang
sembarangan ya, karena di balik kebaikan seseorang pasti ada hal yang dipandang
jelek, dan ini bukan hanya aku yang ngomong kalau dia itu agak bisa disebut playgirl
karena terlihat seringnya berganti pasangan dengan hubungan yang
singkat-singkat.
Aku
menyukai seseorang waktu itu. Semua orang dikelas itu tau. Berat memang
menyukai seseorang yang suka dengan orang lain. Istilahnya bertepuk sebelah
tangan lah yaa. Aku juga fine fine aja kalo laki-laki itu dekat dengan
siapapun. Karena mayoritas di kelas itu wanita. Tapi ada perasaan aneh ketika
cowok itu begitu dekat dengan sang putri, bahkan aku mengira, mereka bukan
sekedar teman, tapi lebih dari teman. Perasaan aku? cemburu ? pasti, sakit ?
iya, kecewa ? banget, dan karena itu, merasa di khianati oleh sang putri ,
meskipun aku bukan teman yang sangat dekat, tapi putri teman aku, dia teman
seorganisasi, kita sering berbincang, berdiskusi, bercanda. Iya, itu awal aku
membencinya. Mulai menjaga jarak , tidak bicara untuk hal yang tidak
penting.
I
was not really hate, karena sebenarnya aku hanya butuh waktu , waktu untuk
mengikhlaskan , waktu untuk menyadarkan diri, bahwa cinta tidak bisa dipaksa
untuk berada di pihak kita. Cinta mempunyai pilihan dia harus berlabuh kemana.
Cinta tahu tempat yang seharusnya dia berada. Aku memaafkannya . Aku ikhlas dia
bersamanya, aku rela dia begitu bahagia dengan cintanya. Tapi akhir semester
sekolah yang menyedihkan dan menyakitkan, lagi lagi membuat aku bingung ,
mengapa tuhan membalikkan hati dengan mudahnya, mengapa tuhan memberi perasaan
berbalik pada laki-laki itu untukku. Begitu aku menyalahkan Tuhan waktu itu. Ada
dua sisi yang aku rasakan, sisi bahagia karena cintaku akhirnya terbalas, dan
sisi bersalah karena dia milik sang putri. Aku terjun pada kebahagiaan itu,
karena aku rasa kita memiliki hak untuk bersama. Aku bahkan mengabaikan semua
orang yang menjudge aku bersalah , termasuk sang putri , dia lebih membenciku ,
dengan obrolan obrolan pedas yang aku dengar dari oranglain , bahkan kita tidak
berbicara satu sama lain. hubungan pertemanan dengan sang putri semakin hancur.
Kalau sebagian orang lebih memilih teman dan meninggalkan cinta tapi aku malah
sebaliknya.
"When you have to choose between love and a friend.
I prefer the love and repairing friends afterwards." - Fia Hanifa
Sampai saat ini
, aku bertahan dengan si Dia. Tapi ternyata rasa bersalah malah semakin tumbuh
, aku begitu menyesal. Bahkan aku pernah mencoba meninggalkan untuk menghapus
bayang bayang bersalah itu , tapi efeknya aku malah menambah luka pada
seseorang dan beberapa orang di sekitar. Aku kembali , meraih tangan yang lama
menunggu , bersama berjalan dan mengabaikan rasa bersalah itu. Kenapa tidak
mencoba mengutarakan ini langsung pada sang putri ? Karena aku sudah terlalu
malu. Kenapa tidak meminta maaf ? Sudah , bahkan sudah beberapa kali sampai
terakhir kali sebelum aku kembali dengan tangannya. Setiap orang memiliki hak
untuk memberi atau menolak maaf. Sang putri memaafkan, tapi masih ada hal
mengganjal dihatinya untuk bersikap seperti biasa lagi. iya , aku bukan
mengharapkan maaf sebenarnya , tapi aku mengharapkan sikap baik nya kembali .
Karena aku masih mengaggap dia teman , dan aku temannya. Tapi jika memang sang
putri sudah menutup pintu hati untuk aku, aku hanya berdoa agar tuhan selalu
ada dan menjaganya. serta tuhan tidak lupa untuk mengampuni kesalahanku sampai
saat ini. Sungguh putri, aku tidak membenci.




Komentar
Posting Komentar